May 25, 2012

Proyek Luar Angkasa Triliuner Dunia



 Pangkalan Udara Cape Canaveral Florida, Selasa 22 Mei 2012, pukul 03.44 waktu setempat. Matahari belum lagi terbit. Sepasang mata menatap lekat ke arah lokasi peluncuran  pesawat luar angkasa, ke arah Roket Falcon 9 yang “menggendong” kapsul Dragon milik Space X.

Perasaan lelaki itu tak menentu: bergairah sekaligus cemas. Pengalaman buruk Sabtu pekan lalu membayang, ketika pesawat itu gagal melesat gara-gara soal teknis.

Dari pengeras suara, terdengar hitungan mundur: 10, 9, 8, 7, … 0. Sepuluh detik, api bercampur asap menyembur di peluncur, mendorong roket dan kapsulnya ke angkasa. Sontak ia bersorak girang.  “Falcon terbang sempurna! Dragon menuju orbit,” serunya.
Dia seperti mengalami ekstase. “Setiap adrenalin dalam tubuhku lepas saat itu. Sangat ekstrem,” kata dia, seperti dimuat Washington Post.

Lelaki itu adalah Elon Musk. Sebelumnya nama ini sama sekali tak diperhitungkan dalam penjelajahan luar angkasa. Dia lebih tenar sebagai pencipta PayPal, alat pembayaran online, dan kini menjabat CEO Space X. Hari itu, sejarah baru sedang dibuat: Dragon adalah satelit swasta pertama diluncurkan dari Bumi menuju ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Bagi Musk, momentum itu adalah pembuktian. Mimpinya dulu dianggap “sinting”, dan  kini menjadi nyata.  Pencapaian hebat dalam usia relatif muda, 40 tahun. Penjelajahan luar angkasa adalah “mainan baru” baginya, setelah perusahaan mobil Tesla Motors dan instalasi energi Matahari, SolarCity.
Dalam misi perdana ke ISS, tak ada astronot yang ikut terbang bersama Dragon, meski pesawat itu dirancang mengangkut sampai tujuh astronot. Ia hanya membawa kargo seberat 521 kilogram ke Stasiun di jagad luar itu.  Ada makanan bagi astronot, dan sebuah laptop. Juga 300 tabung mirip wadah lipstik berisi abu jenazah, termasuk milik mendiang astronot Gordon Cooper, dan aktor James Doohan, yang bermain dalam serial Star Trek.

Meski Dragon masih terlalu pagi untuk dinyatakan berhasil, tapi ambisi Musk belum berakhir. Dalam waktu dekat ia berencana mengirim awak manusia dengan Dragon. “Kita sedang memasuki era baru eksplorasi luar angkasa, di mana ada peran lebih besar bagi perusahaan swasta,” kata Musk.
Perusahaan Musk di Kalifornia diisi para insinyur muda dan veteran NASA. Mimpi terbesarnya adalah memangkas dana perjalanan luar angkasa hingga 90 persen. Yang menarik, saat memulai Space X, Musk benar-benar buta soal roket. “Saat saya terjun ke bisnis roket, saya tak tahu apa-apa. Bahkan tidak pernah membuat apapun terkait itu,” kata dia kepada CBS News.
Keberhasilan peluncuran Dragon juga menuai pujian dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).  Kepala NASA, Charles Bolden mengatakan, saat ini lembaganya menyerahkan transportasi menuju ISS ke sektor swasta. “Jadi, NASA bisa fokus ke pencapaian lebih jauh –mengeksplorasi tata surya lebih dalam, dan meluncurkan misi ke asteroid dan Mars di cakrawala”. 

Tentu, dalam setiap laju roket-roket itu,  ada pundi uang yang terisi bagi Space X. Perusahaan itu telah meneken kontrak dengan NASA untuk mengirim kargo ke ISS senilai US$1,6 miliar untuk 12 kali misi. NASA melalui skema program Commercial Crew Development (CCDev) juga mengucurkan dana US$75 juta  untuk meng-upgrade kapsul Dragon agar bisa membawa kru ke luar angkasa.
Sementara, perusahaan saingan,  Orbital Sciences, juga mendapatkan kontrak senilai US$1,9 miliar, dan dijadwalkan akan mulai meluncurkan satelit ke ISS tahun ini.
Kini rupanya adalah zaman para bohir top dunia melirik luar angkasa. Dan, tak hanya Space X yang punya ambisi besar itu.

Google menambang asteroid
Sebuah ide gila diumumkan 24 April 2012 lalu. Planetary Resources Inc menyatakan rencana ambisiusnya: menambang asteroid.  Pikiran orang langsung melayang ke Film Avatar, yang bercerita soal penambangan mineral di luar angkasa, di dunia lain nan subur, Pandora. Soal konflik dengan suku Na'vi. Atau Film Armageddon, upaya manusia menghindar dari kiamat dengan mengebom asteroid raksasa.
Meski baru muncul, Planetary Resources bukan perusahaan kacangan. Dananya disokong para miliuner di antaranya, duo Google --Larry Page dan Eric Schmidt, bos Petrot System, Ross Perot Jr dan Charles Simonyi, mantan eksekutif di bidang software, yang mengepalai divisi aplikasi di Microsoft. Belum jelas berapa uang mereka kucurkan. Belum satupun dari mereka buka mulut.
Selain para investor, Planetary juga mengumumkan nama sutradara James Cameron. Dia ada di posisi penasehat, sekaligus investor.
Ada dua hal yang diincar: air dan logam mulia platinum. Platinum adalah kelompok logam terdiri dari  ruthenium, rhodium, palladium, osmium, iridium. Dan platinum,  hanya ditemukan dalam konsentrasi rendah di Bumi. Sulit untuk mendapatkannya, karena itu harganya luar biasa mahal. Logam-logam itu tak terbentuk kebetulan di kerak Bumi. Dia terjadi akibat dampak tubrukan asteroid.
"Untuk itulah, kami akan menuju langsung ke sumbernya, asteroid," kata pendiri dan salah satu petinggi Planetary Resources, Eric Anderson, seperti dimuat SPACE.com."Lebih mudah mendapatkan akses ke konsentrasi tinggi logam-logam platinum di asteroid, ketimbang di kerak Bumi."
Cadangannya pun luar biasa. Satu batu angkasa selebar 500 meter misalnya, mengandung platinum setara dengan yang pernah ditambang dalam sejarah manusia."Jika ketersediaan logam ini melimpah, niscaya ongkos memproduksi hampir semua barang termasuk piranti elektronik defibrillator, perangkat selular, TV, komputer, monitor, dan katalis akan berkurang," kata petinggi yang lain, Peter Diamandis. "Kita juga bisa menggunakannya dalam produksi massal, seperti sel bahan bakar kendaraan bermotor."

Lalu untuk apa menambang air?
Jangan bayangkan air dari asteroid dibawa ke Bumi yang airnya melimpah ruah. Rencana Planetary Resources boleh dibilang imajinasi terliar soal penjelajahan angkasa. Mereka berniat membuka “pompa bensin”di luar Bumi. Air akan dipecah menjadi unsur pembentuknya, oksigen dan hidrogen – bahan bakar roket. Untuk pesawat antariksa rute Bumi-Mars , misalnya.
Air dari asteroid juga digunakan membantu para astronot tetap terhidrasi, untuk bercocok tanam di luar angkasa. Juga, sebagai perisai radiasi pada pesawat luar angkasa.
Seperti dimuat USA Today, ini adalah proyek jalur cepat. Pada 2014, perusahaan ini akan mulai meluncurkan teleskop sebesar keranjang cucian, untuk mencari calon asteroid yang akan ditambang. Langkah selanjutnya, mengirimkan armada robot  yang bertugas  mengeruk air dan mineral dari batu angkasa itu.

Proyek rahasia Blue Origin

Bahkan ketika baru bisa berjalan, ia sudah terbukti bukan bocah biasa. Dengan tertatih, Jeff Bezos kecil  memegang obeng, mencoba membongkar tempat tidur bayinya. Beranjak remaja, ia mampu  memperbaiki bulldozer rusak milik kakeknya yang petani. Hanya berbekal buku panduan.
Dari kawasan pertanian, Jeff pindah ke Houston tahun 1969, setelah ibunya menikah dengan Miguel Bezos. Di kota, ia terus bereksperimen. Kesal dengan adiknya yang sembarangan masuk kamar, ia memasang alarm listrik, agar mereka tak bisa masuk. Garasi rumah pun ia ubah jadi laboratorium.
Dari garasi rumah itu juga, ditambah modal US$300 ribu dari orang tuanya, lahir situs penjualan buku populer, Amazon.com.
Namun, kaya raya menjual buku online ternyata tak memuaskan hati Bezos. Pada tahun 2000, ia yang kini punya kekayaan sekitar US$19.1 miliar, mendirikan perusahaan penerbangan angkasa luar, Blue Origin. Tren baru sedang dibuat.
Blue Origin berniat mengembangkan roket, dan pesawat luar angkasa yang bisa digunakan berkali-kali. Termasuk mengirim astronot. Perusahaan yang bekerja dengan amat rahasia itu menerima dana pengembangan dari Program CCDev NASA sebesar US$22 juta pada 2011 lalu. Penerbangan manusia ke Stasiun Ruang Angkasa Internasional dijadwalkan antara 2016 dan 2018.
Tapi seperti apakah roket dan pesawat bikinan Blue Origin itu? Sampai awal Mei 2012, perusahaan itu menutup rapat. Ini proyek rahasia.

Seperti diberitakan SPACE.com 7 Mei 2012, salah satu kendaraan buatan Blue Origin diberi nama sederhana, “Space Vehicle”. “Kendaraan luar angkasa” yang bisa membawa tujuh astronot ke orbit rendah Bumi dan ISS  itu baru merampungkan uji terowongan angin.
Ujian itu dilakukan sebanyak 180 kali,  dan analisis dinamika mengarah ke bentuk paripurna, bikonik. “Bentuk inovatif kendaraan kami lintasan lebih luas, dan volume interior lebih besar dari pesawat tradisional,” kata Rob Meyerson, direktur dan manajer program Blue Origin. “Ini salah satu dari banyak fitur kendaraan yang aman dan terjangkau bagi perjalanan luar angkasa manusia. Tujuan bersama kami dengan NASA.” Juga di bawah program CCDev, Blue Origin siap memulai tes roket pendorong BE-3.

“Balas dendam” Paul Allen

Cita-citanya sejak kecil menjadi astronot. Tapi penglihatannya buruk, dia tak mungkin menerbangkan pesawat. Kelak, setelah ia menjadi miliuner dari penghasilannya di Microsoft –perusahaan yang ia dirikan bersama teman masa kecilnya, Bill Gates, Paul Allen mulai mewujudkan impiannya itu. Dengan cara berbeda.
Allen yang Maret 2012 lalu menjadi peringkat 45 orang terkaya dunia dengan kekayaan US$14,2 miliar makin serius menjalani bisnis penerbangan luar angkasa komersial.
Debutnya dimulai pada 2004.  Allen menjadi investor tunggal di balik SpaceShipOne, pesawat komersial sub orbital pertama. Pada 4 Oktober 2004, pesawat itu berhasil mencapai ketinggian lebih dari 100 kilometer. Ia memenangkan Penghargaan Ansari X dan mendapat hadiah uang US$10 juta.
Tujuh tahun kemudian, pada Desember 2011, ia mengumumkan berdirinya Stratolaunch Systems, perusahaan baru yang akan membuat pesawat terbesar yang pernah ada di dunia. Lebar sayapnya saja 385 kaki atau 117 meter, lebih lebar dari lapangan sepakbola, dan 70 persen lebih panjang dari sayap Boeing 747.
Terdiri dari dua badan pesawat, berbahan plastik komposit, dan mengandalkan kekuatan enam mesin jet jumbo, pesawat itu dirancang untuk terbang di ketinggian 30.000 kaki, sebagai pesawat ulang alik. Fungsinya, meluncurkan roket yang diletakkan di bawah sayap gandengnya menuju orbit.

"Hari ini kita berada di awal perubahan radikal industri peluncuran luar angkasa," kata Allen saat itu, seperti dimuat Seattle Times.  Pesawat raksasa itu akan menjalani uji terbang perdana pada 2015, sementara tes peluncuran roket akan dilakukan setahun kemudian.
Roket yang akan diluncurkan adalah milik Space X, kepunyaan Elon Musk. Dengan meluncurkan roket di ketinggian angkasa, bukan di atas tanah, akan menghemat ribuan galon bahan bakar dalam perjalanan ke ruang angkasa.  Juga tak perlu mengkhawatirkan cuaca atau susah payah menentukan waktu dan lokasi yang tepat untuk peluncuran.
Allen mengatakan pesawat ruang angkasa bisa mulai membawa muatan, kargo maupun manusia pada akhir dekade ini.
Allen --yang menjadi penyandang dana tunggal bagi proyek ambisius ini-- tidak menyebutkan berapa banyak duit yang bakal dia kucurkan. Namun, diduga pundi-pundi uangnya bakal berkurang sekitar US$200 juta atau lebih. Ini jauh lebih besar dari US$20 juta yang pernah ia keluarkan guna mendukung penerbangan luar angkasa privat pertama pada 2004 lalu.

“Satelitnya” Angelina Jolie

Tak ada kata menyerah untuk Richard Branson. Saat masih kecil ia menderita disleksia, kesulitan mengolah kata. Peringkat kelas selalu di urutan buncit.  Tapi itu bukan halangan. Pada usia 16 tahun ia berhasil mendirikan usaha pertamanya, majalah bernama Student.
Kini, ia adalah pemilik lebih dari 400 perusahaan di bawah Virgin Group.  Salah satunya, maskapai Virgin Atlantic Airways yang ia dirikan pada 1980-an, yang melipatgandakan harta kekayaannya. Rupanya ia ketagihan, tak puas dengan penerbangan pesawat biasa, kini ia mengincar angkasa.
Dengan bendera Virgin Galactic, ia siap meluncurkan SpaceShip Two, pesawat yang bisa mengangkut enam penumpang dan dua pilot ke luar atmosfer.  Pesawat itu dirancang oleh insinyur luar angkasa Burt Rutan.  Ini adalah versi lebih besar dari SpaceShipOne, yang terbang dengan sukses di penerbangan suborbital pada tahun 2004.

SpaceShip Two tak diluncurkan dari permukaan tanah, tapi lewat pesawat induk, WhiteKnightTwo-- yang bisa dimodifikasi untuk peluncuran roket kecil, atau satelit untuk NASA atau pengguna lain.
Penumpang ingin jadi wisatawan diharuskan membayar sekitar S$ 200 ribu per kursi, dengan deposit $ 20.000. Pada September 2011, sudah ada sekitar 500 pendaftar, termasuk para pesohor, Tom Hanks, Ashton Kutcher, Katy Perry, Brad Pitt, dan Angelina Jolie.

Tapi  apa yang harus dilakukan jika para turis luar angkasa itu mau menginap? Inilah yang dipikirkan Robert Bigelow, pemilik jaringan hotel Budget Suites of America itu berniat memperluas  hotelnya ke luar angkasa. Ia mengawali mimpinya dengan meluncurkan dua modul habitat inflatable alias bisa dipompa, Genesis 1 dan Genesis 2.

Genesis 2, adalah model uji coba,  yang mengangkasa 2007, dilengkapi kamera, barang-barang pribadi dan permainan Space Bingo. Untuk mengejar mimpi itu, ia siap mengucurkan dana ke Bigelow Aerospace sebesar US$500 juta hingga 2015.

sumber

0 comments:

Post a Comment